DPUPR Berau Fokus Tangani Banjir di Hilir, Perbaikan Hulu Sub DAS Kedaung Belum Dianggarkan

DPUPR Berau Fokus Tangani Banjir di Hilir, Perbaikan Hulu Sub DAS Kedaung Belum Dianggarkan

TANJUNG REDEB, WEBSITE DPUPR – Penanganan banjir di Kabupaten Berau, khususnya di wilayah Kedaung, masih difokuskan pada sektor hilir. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau tahun ini hanya mengalokasikan anggaran untuk perbaikan drainase dan pembangunan gorong-gorong di sekitar Jalan Gatot Subroto.


Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Berau, Hendra Pranata, menyebut bahwa perbaikan di wilayah hulu Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kedaung belum masuk dalam anggaran 2025.


“Kita hanya menangani muara dan krosingan jalan saja,” ujarnya, Jumat (21/3/2025).


Ia mengakui bahwa langkah ini belum menjadi solusi efektif untuk mengatasi banjir secara menyeluruh. Namun, perbaikan drainase tetap diperlukan untuk meminimalisir genangan air yang berdampak langsung pada pemukiman warga.


“Sementara ini anggaran masih terbatas. Perbaikan di hulu Sub DAS juga memerlukan waktu, apalagi sebagian besar wilayah Kedaung sudah mengalami kerusakan,” tegasnya.


Tambang Rugikan Fungsi Hulu Sub DAS Kedaung


Hendra menjelaskan bahwa banjir di Tanjung Redeb tak lepas dari perubahan fungsi Sub DAS di Kedaung, yang merupakan area tangkapan air terbesar di kecamatan tersebut.


“Kedaung adalah Sub DAS terbesar di Kecamatan Tanjung Redeb, luasnya sekitar 440 hektare atau seperlima dari total wilayah kecamatan ini,” paparnya.


Secara alami, Sub DAS Kedaung mampu menampung dan mengalirkan air hujan ke anak sungai yang bermuara ke sungai utama. Namun, 60 persen wilayahnya kini telah rusak akibat aktivitas pertambangan.


“Sejak 2021, pembukaan lahan untuk tambang meningkat pesat, mengurangi daya serap air di hulu. Ini menyebabkan debit air yang turun ke hilir semakin besar dan meningkatkan risiko banjir,” jelasnya.


Hendra menegaskan bahwa tanpa perbaikan di hulu, penanganan di hilir tidak akan cukup efektif.


“Kita tidak bisa hanya menambah saluran dan gorong-gorong. Harus ada perbaikan di hulu, termasuk membangun kawasan terbuka hijau agar daya serap air kembali optimal,” tandasnya.(hel)